
Mengenal Sistem Kuliah di Al-Azhar Kairo: Fakultas, Jurusan, dan Jalur Pascasarjana yang Wajib Diketahui Calon Mahasiswa
Ingin kuliah di Al-Azhar Mesir? Kenali dulu sistem perkuliahan, daftar fakultas kampus putra-putri, hingga jalur magister dan doktoral secara lengkap. Keyword fokus: kuliah di Al-Azhar, jurusan Al-Azhar Kairo, fakultas Al-Azhar Mesir, sistem kuliah Al-Azhar, kuliah gratis di Mesir
Proses belajar di Al-Azhar masih setia dengan tradisi muhadharah, yaitu metode ceramah di mana mahasiswa duduk mendengarkan penjelasan dosen (dalam istilah lokal disebut duktur) menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar utama.
Pada jenjang Strata 1 (License), forum diskusi belum menjadi budaya utama — fokusnya lebih ke penyerapan materi secara maksimal dari penjelasan pengajar. Baru di jenjang Magister, diskusi akademik mulai lebih ditekankan.
Karena metode ceramah ini menuntut daya serap tinggi, tidak heran kalau mahasiswa Al-Azhar — termasuk banyak mahasiswa asal Indonesia — terbiasa mengadakan kajian tambahan di luar jam kuliah resmi. Ini semacam "kelas bayangan" yang justru memperkuat pemahaman mereka terhadap materi.
Kalau kamu membayangkan kuliah di Al-Azhar sama seperti kuliah di kampus-kampus pada umumnya, kamu perlu meluruskan ekspektasi dulu. Al-Azhar punya cara sendiri dalam mendidik mahasiswanya — dan justru di situlah letak keistimewaannya.
Saat ini, jaringan kampus Al-Azhar sudah tersebar di berbagai provinsi Mesir, mulai dari Kairo, Alexandria, Thonto, Dimyath, sampai Luxor. Jadi bukan cuma satu gedung di satu kota, tapi ekosistem pendidikan Islam yang menyebar ke seluruh negeri.
Yang membedakan Al-Azhar dari kampus modern kebanyakan: tidak ada sistem SKS. Mahasiswa di sini dinilai per tingkat, dengan toleransi maksimal dua mata kuliah tidak lulus dari total 11 hingga 18 mata kuliah, tergantung jurusan yang diambil. Artinya, kedisiplinan belajar jauh lebih dituntut dibanding sekadar mengejar jumlah SKS.
Bukan Kampus Biasa: Begini Cara Kerja Perkuliahan di Al-Azhar
Metode Muhadharah: Warisan Klasik yang Masih Dipertahankan
Dua Jalur Besar Jurusan di Al-Azhar
Secara umum, jurusan-jurusan di Al-Azhar dibagi menjadi dua kelompok besar:
1. Qism Adabi (Rumpun Humaniora)
Meliputi fakultas seperti Ushuluddin, Syariah, Bahasa Arab, Dirasah Islamiyyah, Ekonomi, Dakwah Islamiyyah, Bahasa dan Terjemah, hingga Tarbiyah.
2. Qism 'Ilmi (Rumpun Sains)
Meliputi Kedokteran, Farmasi, Pertanian, Teknik, MIPA, hingga Olahraga.
Menariknya, mayoritas mahasiswa internasional (wafidin) — termasuk mahasiswa Indonesia — cenderung memilih tiga fakultas favorit: Ushuluddin, Syariah, dan Bahasa Arab.
Kampus Putra vs Kampus Putri: Ada Perbedaan Struktur
Dirasah Islamiyah (mencakup Tafsir, Hadis, Akidah Filsafat, Syariah, dan Bahasa Arab dalam satu rumpun)
Shahafah wa I'lam (Jurnalistik & Komunikasi)
Sosiologi, Tijarah, Kedokteran, Kedokteran Gigi, Farmasi
Sains dan Matematika, Teknik, Pertanian, Tarbiyah
Pendidikan Jasmani, Keperawatan, Psikologi
Gambaran fakultas di kampus putra (Darrasah & Hay Sadis) meliputi:
Satu hal yang unik dari Al-Azhar: kampus putra (Kuliyyah Al-Banin) dan kampus putri (Kuliyyah Al-Banat) memiliki struktur fakultas yang tidak sepenuhnya sama.
Di kampus putri, Fakultas Dirasah Islamiyyah digabung dengan disiplin ilmu lain seperti Ushuluddin, Syariah, dan Bahasa Arab dalam satu payung. Sementara di kampus putra, masing-masing berdiri sebagai fakultas independen.
Gambaran fakultas di kampus putri (Hay Sadis) meliputi:
Ushuluddin (Tafsir, Hadis, Aqidah Filsafat, Dakwah)
Syariah wa Qanun (termasuk jalur Bahasa Arab dan Bahasa Inggris)
Bahasa Arab
Dirasah Islamiyah wa Al-'Arabiyah
Pendidikan Jasmani, Dakwah Islamiyah, Tijarah, Ilmu Komunikasi, Tarbiyah
Bahasa dan Terjemah
Kedokteran, Kedokteran Gigi, Farmasi
Sains dan Matematika, Teknik, Pertanian, Teknik Pertanian
Kesimpulan: Sistem yang Menuntut Kedisiplinan, Bukan Sekadar Nilai
Sistem pendidikan di Al-Azhar dirancang untuk melahirkan lulusan yang benar-benar menguasai ilmu, bukan sekadar lulus administratif. Tidak adanya sistem SKS, metode muhadharah yang klasik, hingga jenjang pascasarjana yang menuntut komitmen jangka panjang — semuanya membentuk karakter keilmuan yang mendalam bagi setiap mahasiswanya.
Bagi calon mahasiswa Indonesia, memahami sistem ini sejak dini akan sangat membantu proses adaptasi begitu tiba di Kairo.
Bagaimana dengan Jenjang Magister dan Doktoral?
Buat yang berencana melanjutkan studi lebih tinggi di Al-Azhar, ada dua tahapan besar yang perlu dipahami:
1. Tahap Tamhidi (Persiapan) Terdiri dari dua tingkatan, masing-masing dengan empat kali ujian. Mahasiswa boleh mengambilnya berurutan tiap tahun, atau menunda (takjil) bila belum siap. Namun, jika gagal menuntaskan delapan ujian dalam dua tingkatan tersebut, statusnya dinyatakan mafshul alias drop out.
2. Tahap Risalah (Penulisan Tesis) Dimulai setelah tahap tamhidi tuntas, mahasiswa mengajukan judul tesis untuk diteliti dan ditulis. Total keseluruhan program magister — dari tamhidi hingga risalah — diberi batas waktu maksimal tujuh tahun.
Sementara untuk jenjang Doktoral, mahasiswa baru bisa memulai setelah mengantongi gelar Magister dari Al-Azhar, dilanjutkan dengan pengajuan judul disertasi, penelitian, dan penulisan.
